Pengomposan Aerobik

Written By Unknown on 27/07/2013 | 2:08 am


 (Laporan Praktikum Biologi dan Kesuburan Tanah)





I.         PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Sebelum era 1960-an, petani Indonesia menerapkan Pertanian Organik yang murni. Salah satunya dengan memanfaatkan kohe (kotoran hewan) sapi, kambing, residu panen yang semuanya dikomposkan dengan teknik sederhana. Cara ini cukup efektif di dalam mempertahankan kesubura tanah dan tanaman pada waktu itu. Namun hasil panen tidak mengalami peningkatan yang signifikan.
Di era 1960-an, petani Indonesia mulai mengenal pupuk kimia sintetis. Presiden di waktu itu, (alm) Ir. Soekarno menggratiskan biaya pupuk kimia ini, sehingga petani berbondong-bondong
menggunakannya. Dosis yang awalnya hanya 40-70 kg/ha, lama kelamaan sampai sekarang menjadi 200-300 kg/ha. Salah satu penyebabnya, petani berpikir bahwa pemberian pupuk kimia yang semakin banyak makin meningkatkan hasil panen. Selain itu, petani menganggap pupuk kimia dapat menggantikan kedudukan pupuk organik. Pada awalnya pernyataan itu benar, hasil panen dapat meningkat lebih dari dua kali lipat. Namun seiring berjalannya waktu, justru terjadi penurunan drastis hasil panen.
Pemakaian pupuk kimia terus-menerus mengakibatkan tanah menjadi bantat, pucat, dan mudah kering. Pemakaian pupuk kimia merusak kehidupan organisme di dalam tanah, karena kandungan Bahan Organik (BO) menurun drastis akibat konversi 100 % dari pupuk organik ke pupuk kimia. Bahan organik merupakan niche bagi organisme tanah. Akibatnya kesuburan tanah menurun, karena mikrobia merupakan kunci di dalam menentukan status kesuburan tanah.
Namun, dewasa ini petani mulai sadar dengan kekurangan yang dimiliki pupuk kimia. Petani mulai kembali mempergunakan pupuk organik dan menurunkan dosis pemakaian pupuk kimia. Para petani biasanya melakukan pengomposan dari brangkasan tanaman seperti jerami padi di tengah-tengah lahan mereka. Teknik pengomposan yang sering dipakai adalah teknik pengomposan areobik karena tidak sulit dan cepat matang.
Pengomposan aerobik berjalan dengan kondisi terbuka. Dalam hal ini udara bebas bersentuhan langsung dengan bahan kompos. Ciri khas teknik ini adalah pengontrolan yang intensif/terus-menerus. Mulai dari pengontrolan kadar air, suhu, pH, kelembaban, ukuran bahan, volume tumpukan bahan, dan pemilihan bahan. Hasil akhir pengomposan aerobik berupa bahan yang menyerupai tanah berwarna hitam kecoklatan, remah, gembur dan amorf.
Di dalam praktikum ini, mahasiswa akan melaksanakan kegiatan pengomposan aerobik dengan bahan dasar kompos, yaitu : jerami padi, kohe sapi, dengan dekomposer EM4.

B.       Tujuan
Adapun, tujuan dalam praktikum ini, diantaranya :
1.        Untuk mengetahui teknik pengomposan secara aerobik.
2.        Untuk mengetahui proses-proses yang terjadi selama pengomposan aerobik.
3.        Untuk mengetahui perbedaan kondisi awal dan akhir dari kompos.
4.        Untuk mengetahui ciri-ciri kompos yang matang.




II.      TINJAUAN PUSTAKA

Penggunaan pupuk kimia yang terus menerus telah mengakibatkan dampak negatif bagi tanah dan lingkungan. Dampak negatif yang timbul merusak struktur (fisik) tanah dan lingkungan karena tanah menjadi keras pada musim kering dan lengket pada musim hujan dengan porositas tanah menurun. Pupuk anorganik tidak mempunyai sifat yang dapat memperbaiki sifat dan fungsi fisik tanah serta
fungsi biologi tanah secara langsung (Hong, 1991; Karama et al., 1991 dalam Sajimin, 2011 dkk ).
Pemberian bahan organik dapat meningkatkan kandungan P tersedia dalam tanah secara langsung dan tidak langsung. Penambahan P secara tidak langsung terjadi karena pada proses dekomposisi bahan organik dihasilkan asam-asam organik yang mampu menonaktifkan anion-anion pengikat fosfat, yaitu Al dan Fe, dan membentuk senyawa logam organik (Sukristiyonubowo et al, 1993 dalam Djazuli & Pitono, 2009).
Pupuk organik adalah nama kolektif untuk semua jenis bahan organik asal tanaman dan hewan yang dapat dirombak menjadi hara tersedia bagi tanaman. Dalam Permentan No.2/Pert/Hk.060/2/2006, tentang pupuk organik dan pembenah tanah, dikemukakan bahwa pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan
sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan
pertanian, dan limbah kota. (Suriadikarta dan Simanungkalit, 2006).
Salah satu cara pengomposan yang sederhana adalah proses pengomposan aerob, cara ini paling mudah dilakukan dan hasilnya relatif memuaskan. Sebenarnya proses pengomposan aerobik sampah kota ini, dapat diterapkan dalam skala kecil. Yaitu sampah yang telah diambil dari rumah tangga yang telah dipisahkan dari sampah anorganik ditumpuk disuatu tempat dengan ketinggian tidak lebih dari 1,5 m, kemudian tumpukan sampah ini diusahakan jangan terjadi pemadatan untuk menjamin pasokan aliran udara (aerasi)  di antara celah-celah antar sampah. Setelah itu aktifitas biologi (mikrobia) mulai berjalan untuk mulai proses perombakan sampah organik. Proses perombakan aerobik ini berlangsung kurang lebih dalam 45 hari (Atmojo, 2007)
Setiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungan dan bahan yang berbeda-beda. Apabila kondisinya kurang sesuai atau tidak sesuai, maka organisme tersebut akan dorman, pindah ke tempat lain, atau bahkan mati. Menciptakan kondisi yang optimum untuk proses pengomposan sangat menentukan keberhasilan proses pengomposan itu sendiri. Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain:
1. Rasio C/N
2. Ukuran partikel
3. Aerasi
4. Porositas
5. Kandungan air
6. Suhu
7. pH
8. Kandungan hara
9. Kandungan bahan-bahan berbahaya    (Isroi, 2010).




III.   METODOLOGI PERCOBAAN


A.      Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini, antara lain : kantong plastik hitam, golok, gunting, dan ember.
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan antara lain : jerami 4 kg, kotoran sapi, 4 kg, larutan EM4 , air gula ½ liter, dan air 10 liter.

B.       Cara Kerja
Adapun cara kerja dalam praktikum ini, diantaranya :
1.        Dicacah jerami padi hingga kecil (2 cm) menggunakan golok atau gunting.
2.        Dikeringkan kotoran sapi
3.        Ditebar plastik hitam sebagai alas pengomposan.
4.        Diletakkan jerami padi yang terpotong diatas alas plastik.
5.        Ditambah dengan kotoran sapi diatasnya.
6.        Disiram dengan 10 ml EM4 + ½ liter air gula + 10 liter.
7.        Dibuat 5 tumpukan.
8.        Ditutup dengan plastik hitam.
9.        Diamati setiap 3 hari sekali selama 1 bulan.
10.    Dibalik kompos apabila suhu terlalu tinggi (> 500C).
11.    Setelah 1 bulan, diukur kadar airnya dengan menimbang bobot segar 100 gram dibandingkan dengan bobot kering setelah pengovenan yang dinyaakan dalam persen.






IV.   HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


4.1    Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan dalam praktikum ini disajikan dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 1. Data Pengamatan Kompos Jerami dari 21 September-18 Oktober 2012.
No
Tanggal
Gambar
Keterangan
1
21 September 2012



Belum terjadi perubahan warna, masih berbau jerami, suhu normal
2
24 September 2012



Bau jerami tidak menyengat lagi, warna jerami sudah mulai berubah kcoklatan, suhu normal dan dilakukan pembalikan kompos.
3
27 September 2012







Bau jerami tidak menyengat lagi, warna jerami sudah mulai berubah kecoklatan, suhu normal dan dilakukan pembalikan kompos. Karena jerami mengering dan dilakukan penyiraman air.
4
30 September 2012

Warna jerami menjadi coklat, bau jerami masih terasa dan suhu normal. Dilakukan pembalikan kompos.
5
3 Oktober 2012

Jerami mulai terurai, warna mula kehitaman, sedikit berbau dan masih normal.
6
6 Oktober 2012











Jerami terus mengalami penguraian, mengeluarkan aroma bau tidak sedap, suhu normal. Dilakukan pembalikan kompos.
7
9 Oktober 2012

Jerami sedikit mengering dan terus terurai, suhu normal, dan mengeluarkan bau tidak sedap.
8
12 Oktober 2012

Bau jerami mulai berkurang, warna jerami mulai menghitam, suhu normal, dilakukan pembalikan kompos.
9
15 Oktober 2012

Jerami sudah mulai menjadi kompos, seluruh bahan sudah berbau kompos, dan suhu masih normal.
10
18 Oktober 2012

Jerami sudah matang namun tidak merata dan bau pun sudah menunjukkan bau kompos matang serta suhu sedikit hangat

Perhitungan :
Diketahui: Bobot kompos basah 100 gram, setelah dioven selama 24 jam dengan suhu 105°C, kompos kembali ditimbang dan bobot kompos mengalami penyusutan yaitu menjadi 29,40 gram.
Kadar air ( % ) = (Bobot basah-Bobot kering)/(Bobot kering) x 100 %
=(100 gram-29,40 gram)/(29,40 gram) x 100 %
=(70,6 gram)/(29,40 gram) x 100 %
= 2,4x 100 %
=240%

4.2    Pembahasan
Pengamatan kompos jerami dilakukan dari tanggal 21 September-18 Oktober 2012, lebih kurang 1 bulan. Jika dilihat dari perubahan warna, hal ini terjadi pada hari ketiga pengomposan yang dimulai dari perubahan menjadi cokelat, lalu cokelat kehitaman, dan akhirnya kehitaman. Perubahan warna yang cepat menandakan proses pengomposan berjalan baik dengan kadar BO (Bahan Organik) yang tinggi. Jika dirasakan bau yang ditimbulkan, awal awal proses dekomposisi timbul bau tidak sedap yang lama-kelamaan akan hilang seiring matangnya kompos.
Pada pengamatan suhu, terdapat kekurangan dalam kepekaan merasakan suhu menggunakan telapak tangan. Karena dari pengamatan 1 (21 September 2012) hingga pengamatan 9 (15 Oktober 2012) suhu masih relatif stabil/normal. Seharusnya pada 24 jam pertama suhu akan meningkat antara 250-650 C yang bertahan selama 2-4 hari. Peningkatan suhu ini akibat adanya aktivitas mikroorganisme dalam menguraikan bahan organik. Bila penguapan terlalu tinggi akibat peningkatan suhu yang tinggi, maka bahan kompos akan cepat kering. Untu itu perlu pemberian air untuk dapat mempertahankan kadar air supaya mikrobia dapat terus beraktivitas di dalam penguraian.
Menurut Yuwono (2005) tanda-tanda bahan sudah menjadi kompos antara lain :
1.        Bahan menyerupai tanah berwarna cokelat tua kehitaman.
2.        Suhu bahan tidak dapat naik lagi atau suhu cenderung turun dan menjadi stabil kurang dari 450 C selama berhari-hari.
3.        Terjadi penyusutan berat hingga mencapai 50 % dari berat awal.
Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan kompos dijelaskan dibawah ini :
1.        Rasio C/N : adalah perbandingan kadar C dan kadar N dalam suatu bahan. Semua makhluk hidup terbuat dari sejumlah besar bahan C serta N dalam jumlah kecil. Pembuatan kompos aerobik optimal membutuhkan C/N 25:1 sampai 30:1. Jerami padi memiliki C/N 50:1 hingga 70:1 dan C/N kotoran sapi 20:1.
2.        Volume Bahan : sangat menentukan kecepatan proses terbentuknya kompos. Volume tumpukan yang ideal minimal 1m x 1m x 1m atau maksimal 2m x 2m x 2m.
3.        Ukuran Bahan : semakin kecil ukuran bahan, proses pengomposan akan lebih cepat dan lebih baik karena mikroorganisme lebih mudah beraktivitas mengolah dan membentuk koloni pada bahan yang sudah lembut. Ukuran bahan yang dianjurkan pada pengomposan aerobik berkisar antara 1-7,5 cm.
4.        Kadar Air Bahan : yang dianjurkan dalam pengomposan aerobik adalah 40 % sampai 50 %. Kondisi ini harus dijaga agar mikroorganisme aerobik dalam kompos dapat bekerja dengan baik dan tidak mati.
5.        Temperatur : suhu ideal untuk pengomposan aerobik adalah 450-650 C. Suhu kompos dijaga agar tetap stabil dengan cara mengatur kadar air.
6.        Derajat Keasaman : pH yang terbaik untuk proses pengomposan aerobik dan anaerobik dikondisikan agar tiap bagian mendapat suplai udara cukup.


 


V.      KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat ditarik dalam praktikum ini, antara lain :
1.        Pembuatan kompos jerami aerobik memerlukan pengamatan rutin agar menghasilkan kematangn kompos yang baik.
2.        Perubahan fisik seperti warna, bau, dan bentuk merupakan indikator paling mudah dalam mengamati proses pengomposan.
3.        Pengaturan suhu kompos dengan pembalikan membantu mikrobia untuk terus dapat menguraikan bahan organik.
4.        Pengoptimalan faktor-faktor yang mempengaruhi pengomposan akan berpengaruh terhadap kecepatan terbentuknya kompos.
5.        Ciri dari kompos yang siap digunakan antara lain : warna kehitaman, suhu normal, penyusutan bobot hingga 50 %.




DAFTAR PUSTAKA

Atmojo, Sutoro Wongso.2007. Mencari Sumber Pupuk Organik. (Solo Pos,  28
Maret 2007).

Djazuli, Muhammad & Pitono Joko.2009. Pengaruh Jenis dan Taraf Pupuk
Organik Terhadap Produksi dan Mutu Purwoceng. JURNAL LITTRI VOL. 15 NO. 1, MARET 2009 : 40 – 45 Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Jl. Tentara Pelajar No. 3, Bogor 16111

Isroi, 2010.Pengomposan Limbah Padat Organik.diakses melalui
www.isroi@ipard.com pukul 19:00 tanggal 1 Desember 2012.

Sajimin, dkk.2012. Potensi Kotoran Kelinci Sebagai Pupuk Organik
Dan Pemanfaatannya Pada Tanaman Pakan Dan Sayuran. Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Agribisnis Kelinci Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002.

Suriadikarta dan Simanungkalit.2006.Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Balai
Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2006.

Yuwono, Dipo.2005.Kompos.Penebar Swadaya : Jakarta.

Ditulis Oleh : Unknown ~Balconystair

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Pengomposan Aerobik yang ditulis oleh Balconystair Jika Anda menyukai artikel ini, silakan klik like atau tombol g+, Anda diperbolehkan mengcopy paste artikel ini dengan catatan mencantumkan sumbernya. Terima Kasih dan sering-sering mampir, ya.. :) Salam Blogger!!

Blog, Updated at: 2:08 am

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih atas kujungan anda. Komentar anda akan sangat bermanfaat untuk kemajuan blog ini.


Popular Posts

Balconystair. Powered by Blogger.